Entah bagaimanakah cara memahami yang benar antara ketololan dan kepasrahan sehingga kita bisa memperoleh pengertian yang benar. Menjelang hari raya idul adha ketika kita melintasi sederetan hewan qurban di sekitar masjid, terlihat dengan jelas pada wajah hewan-hewan itu yang tidak menampakkan kesedihan. Bahkan banyak di antara hewan-hewan qurban itu yang masih mengunyah-ngunyah rumput yang disediakan untuknya. Padahal satu atau dua hari lagi urat lehernya bakal terputus dan nyawanya pun melayang. Tak ada satupun di antara hewan-hewan ternak itu yang histeris atau yang memberontak.
Bisa jadi anggapan yang muncul di benak kita atas pemandangan seperti itu adalah karena hewan-hewan itu tidak menyadari, tidak memahami, tidak mengira, dan tidak mempunyai pemikiran bahwa mereka bakal mengalami nasib yang tragis. Bahkan banyak di antara kita yang menganggap hal itu adalah suatu simbul kebodohan hewani, bentuk ketololan hewani. Sedikit sekali atau bahkan tidak ada di antara kita yang beranggapan bahwa itu adalah bentuk kepasrahan hewani, bentuk ketaatan hewani terhadap Sang Khalik sehingga bagi mereka tidak perlu harus merasa sedih kemudian histeris dan memberontak. Di antara kita tidak ada yang tahu jika seandainya hewan-hewan qurban itu justru merasa bangga karena mati dalam kepasrahan kepada Sang Khalik. Di antara kita juga tidak ada yang mengerti jika seandainya hewan-hewan qurban itu justru merasa bangga karena mati dalam ketaatan kepada Sang Khalik.
Memang sering kali terjadi bahwa kita tidak bisa membedakan antara ketololan dan kepasrahan.
Tahukah kita bahwa situasi yang dihadapi oleh hewan-hewan qurban itu pernah terjadi juga pada diri seorang manusia yang bernama Ismail. Dan Ismail pun sanggup menggadapi situasi itu dengan penuh kesabaran dan ketaatan, sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah di dalam Kitab Suci Al Qur'an :
Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash Shaaffaat: 102).
Semoga kisah ini bermanfaat bagi kita bersama, amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar